You are currently viewing KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM

KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM

Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim.

Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Asal kita mau berusaha, Allah akan membukakan pintu-pintu ilmu itu bagi kita. Tugas kita hanyalah berusaha untuk mempejari ilmu itu, belajar lagi dan lagi. Hingga maut menjemput kita.”

Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya seseorang yang usianya sudah 80 tahun. Apakah orang tua itu masih pantas untuk menuntut ilmu? Imam Hasan menjawab, “Jika ia masih pantas hidup.”

Demikianlah hakikat dari menuntut ilmu, ia menjadi ruh bagi kehidupan. Siapa yang menganggap dirinya masih pantas untuk hidup, maka dia mesti belajar dan menambah pengetahuannya. Imam al-Hasan menegaskan, tak ada batasan usia bagi orang yang mau menuntut ilmu.

Mengutip buku Biografi Imam Syafi’I oleh Ahmad Al-Baihaqi, Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta Rasulullah SAW. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Syafi`i

Kata Mutiara Imam Syafi’i yang Artinya

  1. Barangsiapa yang ingin Allah buka hatinya atau diberi cahaya maka hendaklah dia berkholwah (menyendiri untuk bertafakur), sedikit makan, meninggalkan bergaul dengan orang-orang “ideot”, serta meninggalkan pergaulan dengan sebagian ahli ilmu yang tidak memiliki objktifitas dan tidak memiliki adab.
  2. Tidak ada yang lebih afdhol untuk mendekatkan diri kepada Allah setelah ibadah-ibadah fardhu kecuali tholabu al-ilmi.
  3. Mencari kemewahan dunia adalah cobaan yang Allah timpakan kepada ahli tauhid.
  4. Tidaklah seorang menuntut ilmu dalam kekayaan dan jiwa yang tinggi kemudian berhasil, tetapi siapa yang menuntut ilmu dengan jiwa yang merasa kurang, susah dalam penghidupan, mengabdi pada ilmu dan jiwa yang penuh tawadhu maka dia yang akan berhasil.
  5. Belajarlah sebelum menjadi pemimpin, karena apabila kamu sudah jadi pemimpin tiada jalan untuk belajar.
  6. Barangsiapa menuntut ilmu hendaklah dengan cara yang teliti, agar tidak hilang detail-detail ilmu.
  7. Keanggunan ulama adalah pengamalan akan ilmunya, perhiasan ulama adalah akhllak yang baik, keindahan ulama adalah jiwa yang mulia.
  8. Ilmu bukanlah apa yang dihafal, ilmu adalah apa yang bermanfaat (bagi pemiliknya).
  9. Kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam lima perkara; jiwa yang merasa cukup, tidak menyakiti orang, mencari rizki yang halal, selalu bertakwa dan selalu percaya dan bergantung kepada Allah dalam semua hal.

Leave a Reply